Sunday, 12 September 2010
Barangkali Cinta - nya Dee ....
Jika darahku mendesirkan gelombang yang tertangkap oleh darahmu dan engkau beriak karenanya. Darahku dan darahmu, terkunci dalam nadi yang berbeda, namun berpadu dalam badai yang sama. Barangkali cinta… jika napasmu merambatkan api yang menjalar ke paru-paruku dan aku terbakar karenanya. Napasmu dan napasku, bangkit dari rongga dada yang berbeda, namun lebur dalam bara yang satu. Barangkali cinta… jika ujung jemariku mengantar pesan yang menyebar ke seluruh sel kulitmu dan engkau memahamiku seketika. Kulitmu dan kulitku, membalut dua tubuh yang berbeda, namun berbagi bahasa yang serupa. Barangkali cinta… jika tatap matamu membuka pintu menuju jiwa dan aku dapati rumah yang kucari. Matamu dan mataku, tersimpan dalam kelopak yang terpisah, namun bertemu dalam setapak yang searah. Barangkali cinta… karena darahku, napasku, kulitku, dan tatap mataku, kehilangan semua makna dan gunanya jika tak ada engkau di seberang sana. Barangkali cinta… karena darahmu, napasmu, kulitmu, dan tatap matamu, kehilangan semua perjalanan dan tujuan jika tak ada aku di seberang sini. Pastilah cinta… yang punya cukup daya, hasrat, kelihaian, kecerdasan, dan kebijaksanaan untuk menghadirkan engkau, aku, ruang, waktu, dan menjembatani semuanya demi memahami dirinya sendiri.
Wednesday, 8 September 2010
belahan jiwa, separuh nyawa adalah isi hati
Bukan interior sekedar memenuhi syarat estetika.
Bukan barang di etalase, yang ditulisi plang : dilihat boleh, dipegang jangan.
Bukan pula pelengkap hidup yang menambal kekurangan dengan kelebihan.
Cinta tak kan pernah bersyarat, karena sejatinya tak kan pernah ada orang yg lulus atas persyaratan itu, sekalipun si cinta hanya memasang minimum requirement.
Jika hidup adalah sebuah lingkaran utuh, maka untuk hidup pun tak pernah membutuhkan apa-apa.
Hidupku bukan separuh lingkar yang akhirnya penuh, jika aku menemukanmu.
Hidupmu bukannya kehidupan yang tak sempurna, jika pada akhirnya kamu tak memilikiku.
Lihatlah kini, kita adalah satu lingkaran dengan dua rel yang bersisihan.
Lingkaran yang mengejewantah pada sesuatu, yang selalu kuingat dimana kita menyimpannya.
Friday, 3 September 2010
Menanti Pelangi
Hujan sesiangan itu menunda semua rencana.
Curahnya mungkin hingga miliaran millimeter per jam…
Mendungnya memadati langit..menutupi angkasa…
Gemuruh gunturnya menggetarkan setiap sekat…
menggaung memecah sunyi dan dalam sekejap mengubah nuansa..
Meski cahaya datang sebelum suara..
Namun kilat tak sempat menjadi penanda yang membuat setiap indra siap menerima…
Silaunya membuat jeda yang tak lama menjadi semakin tak berarti…
Hujan yang tak memakai prolog gerimis…
Hujan yang langsung deras…
Hujan yang durasinya membuat semua yang berada di permukaan bumi tergenang mengambang..
Tanah kehilangan daya absorsi, ia seperti hanya mampu memangku air…
Hujan yang tak bertuan, entah milik siapa…musim kemarau ataukah musim penghujan…
Hujan yang kutunggu semoga cepat berlalu…
Kutangisi semoga segera berhenti…
Tak jua memberikan tanda bahwa dia akan reda sebentar lagi, justru mengundang angin untuk menemani..
Menyeruling memanggil manggil nama malaikat..
Dingin hadir…
Lembab menyergap…
Tak ada pilihan selain tenggelam menikmati drama melankoli hujan…
Meluruh dalam sedihnya alam, jika hujan itu adalah airmatanya..
Turut berbela sungkawa jika memang memang hidup sedang ingin membagi dukanya…
Kudengar saja aneka derunya…yang merintik di daun, mengucur di talang, menimpa di genteng, pias di jendela..
Menjadi nina bobok ritmis untuk mata yang lelah karena tangis…
Hingga, pada suatu waktu…
Ketika hujan hanya setipis sutra bening…
dan sinar itu menembus celah..menyengat halus, menyudahi tidur…
Bau tanah terhirup segar, seperti ingin kulahap jika saja dia berupa benda tak sekedar bau di udara...
Kubuka pintu kamarku.. dunia seperti hari baru yang pertama kali mengenal terang, dimana gelap tak pernah datang.
Matahari menyembul diantara awan…memantul-mantulkan cahayanya , berpendar ke segala jurusan, dan menggaris tipis dalam warna jingga…
Dan rupanya…sutra hujan itu, mata dan sinar di belakangku…berada dalam satu garis… menghadirkan satu-satunya gelombang electromagnet yang kasat mata…bernama..pelangi….
Perlambang sebuah janji yang ditetapkan untuk Nuh, dan yang ditepati hingga kelak ia menjadi moyang terpercaya bagi segala bangsa…
Janji atas iman mencipta sebuah bahtera diatas bukit di padang gurun.
Pelangi untuk Nuh adalah pelangi yang sama untukku , yang terdiri dari warna-warna spektra hasil dari hujan yang menjadi prismanya.
Pelangi yang tercipa setelah hujan, selebat apapun. Warnanya akan sama berderet indah…
Pelangi yang sama pula yang menjadikanku semakin percaya, tak ada yang abadi di dunia ini… termasuk hujan.
Walau bahkan pelangi itu sendiri tak abadi, namun satu hal yang pasti, bahwa dia akan terjadi setelah sang hujan pergi….
~specially to my sun shine and my rainbow after the rain~