Wednesday, 27 October 2010

kemana kau? kekasih hati?

I see u leaving.
I see your back that never turns around.

I hear your song.
Here and there, sounds every element of this universe sing it out loud.

I smell the fragarance I recognice.
Will it be gone by the wind, anyway...

I stay with all my own.
I stay with the serenity you leave on me.

I try to smile.
I wave my hand, while you dont see it. But I know, you already feel it, the feelings that I'm waiting in your wayback....



*set, Kemana Kau, Kasih Hati, play... - I'm lost in your voice*

Sunday, 12 September 2010

Barangkali Cinta - nya Dee ....

Barangkali cintahttp://http://www.goodreads.com/story/show/4335-barangkali-cinta

Jika darahku mendesirkan gelombang yang tertangkap oleh darahmu dan engkau beriak karenanya. Darahku dan darahmu, terkunci dalam nadi yang berbeda, namun berpadu dalam badai yang sama. Barangkali cinta… jika napasmu merambatkan api yang menjalar ke paru-paruku dan aku terbakar karenanya. Napasmu dan napasku, bangkit dari rongga dada yang berbeda, namun lebur dalam bara yang satu. Barangkali cinta… jika ujung jemariku mengantar pesan yang menyebar ke seluruh sel kulitmu dan engkau memahamiku seketika. Kulitmu dan kulitku, membalut dua tubuh yang berbeda, namun berbagi bahasa yang serupa. Barangkali cinta… jika tatap matamu membuka pintu menuju jiwa dan aku dapati rumah yang kucari. Matamu dan mataku, tersimpan dalam kelopak yang terpisah, namun bertemu dalam setapak yang searah. Barangkali cinta… karena darahku, napasku, kulitku, dan tatap mataku, kehilangan semua makna dan gunanya jika tak ada engkau di seberang sana. Barangkali cinta… karena darahmu, napasmu, kulitmu, dan tatap matamu, kehilangan semua perjalanan dan tujuan jika tak ada aku di seberang sini. Pastilah cinta… yang punya cukup daya, hasrat, kelihaian, kecerdasan, dan kebijaksanaan untuk menghadirkan engkau, aku, ruang, waktu, dan menjembatani semuanya demi memahami dirinya sendiri.

Wednesday, 8 September 2010

belahan jiwa, separuh nyawa adalah isi hati

Belahan jiwa, separuh nyawa adalah isi hati.


Bukan interior sekedar memenuhi syarat estetika.
Bukan barang di etalase, yang ditulisi plang : dilihat boleh, dipegang jangan.
Bukan pula pelengkap hidup yang menambal kekurangan dengan kelebihan.

Cinta tak kan pernah bersyarat, karena sejatinya tak kan pernah ada orang yg lulus atas persyaratan itu, sekalipun si cinta hanya memasang minimum requirement.

Jika hidup adalah sebuah lingkaran utuh, maka untuk hidup pun tak pernah membutuhkan apa-apa.
Hidupku bukan separuh lingkar yang akhirnya penuh, jika aku menemukanmu.
Hidupmu bukannya kehidupan yang tak sempurna, jika pada akhirnya kamu tak memilikiku.

Lihatlah kini, kita adalah satu lingkaran dengan dua rel yang bersisihan.
Lingkaran yang mengejewantah pada sesuatu, yang selalu kuingat dimana kita menyimpannya.

Friday, 3 September 2010

Menanti Pelangi

Hujan sesiangan itu menunda semua rencana.

Curahnya mungkin hingga miliaran millimeter per jam…

Mendungnya memadati langit..menutupi angkasa…

Gemuruh gunturnya menggetarkan setiap sekat…

menggaung memecah sunyi dan dalam sekejap mengubah nuansa..

Meski cahaya datang sebelum suara..

Namun kilat tak sempat menjadi penanda yang membuat setiap indra siap menerima…

Silaunya membuat jeda yang tak lama menjadi semakin tak berarti…

Hujan yang tak memakai prolog gerimis…

Hujan yang langsung deras…

Hujan yang durasinya membuat semua yang berada di permukaan bumi tergenang mengambang..

Tanah kehilangan daya absorsi, ia seperti hanya mampu memangku air…

Hujan yang tak bertuan, entah milik siapa…musim kemarau ataukah musim penghujan…

Hujan yang kutunggu semoga cepat berlalu…

Kutangisi semoga segera berhenti…

Tak jua memberikan tanda bahwa dia akan reda sebentar lagi, justru mengundang angin untuk menemani..

Menyeruling memanggil manggil nama malaikat..

Dingin hadir…

Lembab menyergap…

Tak ada pilihan selain tenggelam menikmati drama melankoli hujan…

Meluruh dalam sedihnya alam, jika hujan itu adalah airmatanya..

Turut berbela sungkawa jika memang memang hidup sedang ingin membagi dukanya…

Kudengar saja aneka derunya…yang merintik di daun, mengucur di talang, menimpa di genteng, pias di jendela..

Menjadi nina bobok ritmis untuk mata yang lelah karena tangis…

Hingga, pada suatu waktu…

Ketika hujan hanya setipis sutra bening…

dan sinar itu menembus celah..menyengat halus, menyudahi tidur…

Bau tanah terhirup segar, seperti ingin kulahap jika saja dia berupa benda tak sekedar bau di udara...

Kubuka pintu kamarku.. dunia seperti hari baru yang pertama kali mengenal terang, dimana gelap tak pernah datang.

Matahari menyembul diantara awan…memantul-mantulkan cahayanya , berpendar ke segala jurusan, dan menggaris tipis dalam warna jingga…

Dan rupanya…sutra hujan itu, mata dan sinar di belakangku…berada dalam satu garis… menghadirkan satu-satunya gelombang electromagnet yang kasat mata…bernama..pelangi….

Perlambang sebuah janji yang ditetapkan untuk Nuh, dan yang ditepati hingga kelak ia menjadi moyang terpercaya bagi segala bangsa…

Janji atas iman mencipta sebuah bahtera diatas bukit di padang gurun.

Pelangi untuk Nuh adalah pelangi yang sama untukku , yang terdiri dari warna-warna spektra hasil dari hujan yang menjadi prismanya.

Pelangi yang tercipa setelah hujan, selebat apapun. Warnanya akan sama berderet indah…

Pelangi yang sama pula yang menjadikanku semakin percaya, tak ada yang abadi di dunia ini… termasuk hujan.

Walau bahkan pelangi itu sendiri tak abadi, namun satu hal yang pasti, bahwa dia akan terjadi setelah sang hujan pergi….

~specially to my sun shine and my rainbow after the rain~

Saturday, 17 July 2010

@Stasiun Kalibata ~ suatu sore bersama raya ~


Stasiun selalu bau besi, dimana saja di negeri ini. Saya tak begitu suka. Tapi malam itu saya mesti ke Bogor, jam berapapun kereta yang masuk akal untuk ditumpangi akan saya tunggu (paling tidak yang tidak membuat saya kekurangan oksigen berada didalamnya).
Berjam-jam duduk menunggu di bangku besi (yang bau) saya rela.
Saya sedang sangat tidak bersedia sendirian di kamar kos malam itu.

raya : Mbak, sekarang jam berapa?
saya : setengah lapan, kurang.
raya : Makasih mbak.... Mbak, saya duduk disini ya..
saya : Boleh. (saya menatapmu, dan melihatmu berbeda dari yang lain).
raya : (senyum...)
saya : Kamu mau kemana?
raya : ke Depok lama.
saya : Emang darimana?
raya : dari nganterin temen pulang disitu.. (tangannya menunjuk suatu arah..)
saya : Malem2 begini?
raya : Iya. sekarang jam berapa mbak?
saya : Setengah lapan. .... Kenapa, kemaleman ya buat kamu.
raya : (senyum...) keretanya jam delapan kan mbak?
saya : Iya. kemaleman kan kamu?
raya : Saya pasti dimarahin.
saya : Oya? sama siapa?
raya : Ibu.
saya : Lagian kamu maen malem-malem. Besok sekolah kan?
raya : Iya.
saya : kamu kelas berapa?
raya : empat.
saya : di depok?
raya : iya.
saya : trus, gimana dong nanti kalo ibu kamu marah.
raya : gpp, asal bapak saya nggak ikutan.
saya : heh?
raya : bapak saya jam sgini belum pulang, kalo ibu saja yang marah, itu aman.
saya : mmm..bapak kamu galak ya?
raya : (senyum) .. suka mukul.
saya : kalo Ibu?
raya : Ibu mukul hanya kalo saya bandel di sekolahan. kalo nilai2 saya bagus, ibu nggak marah.
saya : ooo.. kamu sering dipukul bapak.
raya : iya, tp lebih sering ibu yang dipukul.
saya : mmm.. nama kamu siapa sih?
raya : raya.
saya : nama kamu bagus. raya siapa panjangnya.
raya : raya aja. adik saya jaya, naya dan faya...
saya : (bapak kamu kurang kreatif atau cenderung ngawur dalam hal memberi nama? entahlah..yang jelas saya benci bapak kamu..) adik kamu tiga?
raya : iya.
saya : semua sekolah?
raya : faya masih bayi..
saya : ooo.. bapak kamu kerja apa sih?
raya : bantu bangun gedung.
saya : bantuin ngapain?
raya : ya bantuin..kadang angkut semen, kadang angkut batu..macem2...
saya : ooo, kalo ibu?
raya : ikut juragan padang.
saya : ha? mmm.. kerjaannya ngapain tu?
raya : kerja di rumah makan padang.cuci piring.
saya : ooo..
raya : mbak, sekarang jam berapa?
saya : jam lapan kurang sepuluh menit. nanti sampe rumah jam brp kamu?
raya : jam lapan lebih. bapak blm pulang.
saya : kamu takut?
raya : kalo bapak sudah pulang, ibu dipukulin duluan..
saya : trus... (maafkan saya raya, saya ingin tau, saya sudah terlanjur ingin merasakan sakitmu juga, saya sudah menangis di dalam hati, sedari tadi..)
raya : kemaren saya juara dua di sekolah, ibu bilang kalo saya masuk tiga besar, ibu nggak akan marah2 lagi.
saya : kamu juara dua? wah hebat..
raya : harusnya juara satu, tapi fakri absennya cuman satu saya absennya tiga.
saya : oh, nilainya tapi sama?
raya : iya, tapi fakri curang, pas ujian nyontek bonar.
saya : kalo kamu?
raya : saya nggak pernah nyontek.
saya : masaaakk..
raya : saya belajar terus, kalo sudah belajar nggak perlu nyontek, karena sudah bisa.
saya : (raya, saya jatuh cinta sama kamu...) ibu kamu sering marah?
raya : ibu sering ngomel, kalo saya bandel di sekolah sama kalo nggak belajar...
saya : oya?
raya : iya.
saya : oya, minggu ini kamu barusan masuk sekolah ya..
raya : iya. jam berapa mbak?
saya : jam lapan kurang dikit. kereta belum datang...
raya : iya.
saya : gimana nanti kalo bapak kamu marah?
raya : bapak mukul ibu.
saya : trus kamu diapain?
raya : seharusnya kena tendang juga, tapi kalo ada ibu, bapak nggak pernah tendang saya.
saya : ibu kamu bela kamu?
raya : (senyum)..

(4 rangkaian gerbong kereta ekonomi jurusan Bogor mulai bergerak dari Stasiun manggarai memasuki jalur satu, para penumpang harap bergeser ke tengah atau arah selatan... ~ terdengar suara petugas stasiun yang sangat jauh dari merdu melalui pengeras suara..)
saya : tu !!! kretanya datang.
raya : iya!!!!! (mata cerdasmu berbinar, saya benar2 jatuh cinta..)
saya : pasti penuh.
raya : saya naek keatas mbak.
saya : ha?
raya : mbak naek apa? yg ac ya?
saya : saya... iya.
raya : mari mbak...
saya : rayaaa..ati2.
raya : (senyum)

saya : raya, hati-hati ya kalo kamu naek ke atap gerbong...
perlu kamu tau, kamu membuatku rindu bapak ibuku dirumah,
mereka orang tua yang memberikanku pendidikan dengan segenap fasilitasnya tanpa pernah harus berkonflik dengan keadaan,
perlu kamu tau, malem ini kamu membuatku semakin bersyukur, bahwa nilai bagus atau jelekku hanya dianggap sebagai proses pembelajaran biasa, bukan sebagai alat untuk menghindari hukuman tendangan.
perlu kamu tau, bahwa barusan aku merasa bertemu dengan malaikat yang menabur arti jujur dan mencintai kemauan untuk belajar.

Semoga bapakmu belum pulang, sehingga ibumu tak perlu merasakan pukulan. Cintanya akan menjadi peringatan bagi siapapun yang masih saja meremehkan dan tidak menghargai naluri seoarang ibu yang hanya bisa mengasihi, melindungi, dan menyayangi anaknya..

Waktuku bersama mu sangat singkat, untukku bisa merenungkan nilai-nilai kebaikan dalam hidup yang mesti kupegang.

Bahkan kamu tak sempat menanyakan namaku..
Saya lia, raya..
Saya lia yang menjadi sangat kerdil karena berhadapan dengan jiwamu yang besar.
yang duduk di bangku stasiun ini sendirian, miskin teman tapi menjadi kaya batin karna bertemu kamu malem ini..


Ini bukan foto kamu, tapi aku masih ingat senyummu, dan yang kutau, tampak samping bulu mata kamu lentik..