Dia yang tak pernah sampai ke Batavia
Hari itu, hari yang dia janjikan untuk datang, sudah kutunggu sejak tiga bulan yang lalu.
Kutunggu dengan sejuta rencana di kepala
Kutunggu dengan menyiapkan baju terbaik yang pernah kumiliki.
Kutunggu dia bersama cinta yang terjaga.
Kutunggu dia di tungku perapian rindu.
Kutunggu hingga tidak ada hal lain yang lebih menarik selain menunggu.
Tapi pada akhirnya, dia tak pernah sampai ke Batavia.
Meski kutunggu dirinya hingga lewat jam, lewat hari.
Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu.
Entah mengapa, aku tak mau tahu dengan alasan kenapa.
Aku tak tahu dan tak mau tahu.
Hingga hari ini aku masih saja menunggu.
Hingga menunggu menjadi nama tengahku.
Yang kutahu, kupunya perasaan bahwa dia tak akan pernah datang.
Tapi apakah gerangan yang menggerakkan, walau aku tahu dia tak kan pernah datang, tapi aku masih saja tetap menunggu.
No comments:
Post a Comment