Sedikit bercerita.
BULAN Mei yang lalu dua sahabat dekat saya berkunjung ke Jakarta. Seperti biasa, kunjungan ke Jakarta jadwalnya adalah berbelanja.
Dan salah satu yang tak mungkin terlewat adalah belanja di Mangga Dua.
Di tengah perburuan mencari barang mewah nan murah, saya melihat ada orang jualan kue yang belum pernah saya lihat sebelumnya.
BULAN Mei yang lalu dua sahabat dekat saya berkunjung ke Jakarta. Seperti biasa, kunjungan ke Jakarta jadwalnya adalah berbelanja.
Dan salah satu yang tak mungkin terlewat adalah belanja di Mangga Dua.
Di tengah perburuan mencari barang mewah nan murah, saya melihat ada orang jualan kue yang belum pernah saya lihat sebelumnya.
Namanya kue ohbanyaki. Saya tertarik dengan bentuk maupun baunya, mengepul hangat sepertinya lezat. Bentuknya kayak apem (nya orang Jogja), dalamnya bisa macam-macam, keju,coklat, kacang, strawberry dll. Saya memilih coklat.
Selama menunggu kue dibuat, saya mengamati plang yg terpasang di lemari kaca tempat kue ohbanyaki yang sudah matang.
Plang dengan tulisan yang menarik. Lalu saya foto pake HP. Dan kusimpen saja sesudahnya.
Kemarin pas saya buka-buka file2 foto..saya menemukan foto itu kembali. Saya perhatikan lagi tulisannya.
Selama menunggu kue dibuat, saya mengamati plang yg terpasang di lemari kaca tempat kue ohbanyaki yang sudah matang.
Plang dengan tulisan yang menarik. Lalu saya foto pake HP. Dan kusimpen saja sesudahnya.
Kemarin pas saya buka-buka file2 foto..saya menemukan foto itu kembali. Saya perhatikan lagi tulisannya.
Dan saya hanya bergumam dalam hati.Hey, It just like what I use to face now, rite?
To assurance the quality. Menjamin sebuah kualitas.
To always make sure, that what they said about their product quality is firmly guaranteed with some assessments, and it is signed by a certification.
Tukang kue ohbanyaki memahami pentingnya sebuah arti “ berkualiatas”, dan “menjamin kualitas” itu sendiri.
Itu baru hanya seorang tukang kue dan justru belum tentu perusahaan besar melakukannya. ( 500 perusahaan yang setiap harinya saya jadwalkan untuk di audit !!! )
Bukan masalah, apakah itu “hanya” sebongkah kue ohbanyaki atau sebuah sistem di sebuah perusahaan besar, tapi yang jelas kualitas tidak hanya bisa diumumkan..
( semua kecap nomor satu bung!! )
Kualitas harus dibuktikan, dijamin dan jika perlu disertifikasi.
Kualitas tidak berhenti. Sifatnya Continuous improvement. Perbaikan terus menerus. ( makanya ada surveillance, atau audit setiap 6 bulan sekali. That’s what the LRQA does).
Ini menarik bagi saya, tidak hanya ilmunya yang sekarang menantang dan membentang siap untuk dipelajari, tapi juga prosesnya, bagaimana saya mulai digiring untuk masuk dan memahami ke dunia ini. Ternyata dimulai dari plang si tukang kue ohbanyaki yang saya baca 7 bulan yang lalu.
Dan pengetahuan ini tidak hanya berjejal di kepala saya yang semakin sering vertigo, tapi juga menjadi sesuatu yang enak dihayati dan mampu diceritakan.
Tx God for this consciousness, so I can be thankful for further, for the reason why I am here.
~ 18.00 : waktu tepat dimana saya lantas berpikir, jika sebuah kualitas bisa diaudit, di assessment, dijamin dan disertifikasi, lalu apakah sebuah cinta bisa ? ~
No comments:
Post a Comment